Koran Tasikmalaya- Sudah genap 100 hari Viman Alfarizi Ramadhan menjabat sebagai Wali Kota Tasikmalaya, didampingi wakilnya, Diky Chandra. Duet pemimpin baru yang diusung koalisi Partai Gerindra, NasDem, PBB, Partai Ummat, dan Gelora ini membawa harapan besar, terutama lewat jargon kampanye mereka: “Tasik Maju.”
Namun, 100 hari berlalu, masyarakat masih bertanya-tanya, “Di mana gebrakan nyata dari pemimpin baru ini?”
Alih-alih mencetak prestasi atau program-program inovatif, publik justru lebih banyak menyaksikan sosok Viman di berbagai panggung seremonial dan agenda protokoler. Hal ini membuatnya dijuluki sebagian warganet dan aktivis sebagai “Wali Kota Seremonial”. Kehadirannya di acara formal dianggap lebih dominan dibandingkan tindakan konkret di lapangan untuk menyelesaikan berbagai persoalan mendesak Kota Tasikmalaya.
Masalah Tak Kunjung Usai: Sampah, Banjir, hingga Kemiskinan
Masalah-masalah lama di Kota Tasikmalaya masih belum juga terselesaikan. Mulai dari tumpukan sampah yang menggunung, banjir musiman yang menghantui sebagian wilayah kota saat hujan deras, hingga angka kemiskinan dan persoalan sosial lainnya yang belum tersentuh solusi nyata. Di tengah kondisi tersebut, publik menaruh harapan besar pada pemimpin baru untuk membawa perubahan.
Namun hingga hari ke-100, belum tampak langkah progresif atau terobosan signifikan yang dilakukan oleh Viman dan Diky. Kritik pun mengalir deras dari berbagai penjuru, termasuk dari kalangan legislatif.

Baca Juga : Partai Gerindra: Politik Harus Jadi Alat Perubahan, Bukan Sekadar Rebutan Kekuasaan
Kritik Tajam dari DPRD: “Tasik Maju Hanya Retorika?”
Salah satu suara paling lantang datang dari Sekretaris Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Angga Yogaswara. Dalam pernyataannya kepada media, Angga menilai 100 hari kerja Wali Kota Viman masih jauh dari harapan.
“Kinerja beliau lambat dan kurang inovatif. Harusnya, waktu 100 hari itu cukup untuk menunjukkan minimal satu perubahan nyata. Tapi yang terlihat, hanya sibuk dengan jargon dan konten,” ujar Angga. Ia bahkan membandingkan kinerja Viman dengan para kepala daerah muda lainnya seperti Bupati Pangandaran Citra Pitriyami dan Wakil Bupati Garut Putri Karlina, yang sudah menunjukkan gebrakan di masa awal kepemimpinannya.
“Kalau Citra dan Putri bisa memberi dampak dalam waktu singkat, kenapa Viman tidak? Jangan hanya sibuk berlari dan menghadiri seremonial, rakyat butuh bukti, bukan selebrasi,” sindir Angga dalam kritik tajamnya.
Gerindra Pasang Badan: “Viman Sudah On the Track”
Menanggapi kritik tersebut, Fraksi Gerindra di DPRD Kota Tasikmalaya pun angkat bicara. Ketua Fraksi Gerindra, H. Andi Warsandi, SE, menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil Wali Kota Viman masih berada dalam jalur yang tepat.
“Beliau belum bisa melakukan manuver besar karena saat ini semua masih mengacu pada APBD Semester I 2025, yang merupakan warisan dari masa Penjabat Wali Kota sebelumnya,” tegas Andi.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Pemerintah Kota bersama DPRD sedang menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang menjadi dasar hukum untuk menjalankan visi dan misi serta program unggulan dari pasangan Viman–Diky. Proses penyusunan RPJMD inilah, menurut Andi, yang akan menjadi titik awal penilaian sejati terhadap kinerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota.
RPJMD: Harapan Baru atau Sekadar Janji?
Menurut Andi Warsandi, RPJMD merupakan dokumen strategis yang akan menjadi pedoman utama pembangunan Kota Tasikmalaya hingga 2026. Ia menyebut bahwa segala program Viman dan Diky akan mulai tampak hasilnya setelah RPJMD disahkan.
“Jadi jangan buru-buru menghakimi. Mari kita tunggu dan kawal bersama. Ketika RPJMD sudah berjalan, saat itulah kita menilai. Kalau tidak sesuai, barulah publik berhak untuk kecewa,” ungkapnya.
Andi juga menegaskan bahwa kritik yang masuk dari berbagai pihak dianggap sebagai bentuk perhatian dan motivasi. Fraksi Gerindra, katanya, berkomitmen untuk terus mengawal janji-janji politik Viman–Diky, dan mendorong agar semua perangkat daerah segera menjalankan program strategis sesuai rencana.
Masyarakat Menunggu Aksi, Bukan Sekadar Narasi
Meski ada pembelaan dari partai pengusung, publik tetap menunggu aksi nyata. Di tengah berbagai persoalan yang belum tertangani, masyarakat Kota Tasikmalaya berharap pemerintahan baru ini segera menunjukkan langkah-langkah konkret. Mereka tak butuh pemimpin yang hanya aktif di media sosial atau rajin membuat konten, melainkan figur yang mampu menyentuh akar masalah dan menghadirkan solusi.
100 hari memang bukan waktu yang panjang untuk menyelesaikan semua persoalan. Namun, 100 hari adalah cukup untuk menunjukkan arah dan niat perubahan. Apakah Viman dan Diky bisa membuktikan bahwa “Tasik Maju” bukan sekadar slogan? Atau akan berakhir sebagai jargon yang tak pernah jadi kenyataan?
Waktu akan menjawabnya. Dan publik akan menjadi hakimnya.












