Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Prabowo Kunjungan ke China, Situasi Dalam Negeri Aman

Skintific

Koran Tasikmalaya — Prabowo Kunjungan ke China, Situasi Dalam Negeri Aman Presiden terpilih Prabowo Subianto memulai kunjungan kenegaraan ke China minggu ini dalam rangka memperkuat kemitraan strategis bilateral antara dua negara raksasa di kawasan Asia. Lawatan ini disambut hangat oleh Beijing dan dipandang sebagai sinyal penting tentang arah diplomasi luar negeri Indonesia ke depan.

Namun menariknya, kunjungan ini terjadi di tengah situasi politik dan sosial dalam negeri yang sedang memanas, menyusul aksi demonstrasi besar-besaran dan penangkapan ribuan warga beberapa pekan sebelumnya. Kendati demikian, pemerintah memastikan bahwa situasi nasional tetap terkendali dan aman, dengan segala bentuk unjuk rasa dianggap dalam batas konstitusional.

Skintific

Alasan Prabowo Tetap Terbang ke China meski Sempat Batal karena Situasi RI

Baca Juga: Wapres Gibran Digugat Warga Sipil ke PN Jakarta Pusat, Dinilai Melawan Hukum

Agenda Kunjungan: Lebih dari Sekadar Simbolik

Dalam kunjungan resmi yang berlangsung selama lima hari, Prabowo dijadwalkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, serta sejumlah pejabat tinggi militer dan industri strategis China.

Beberapa topik utama yang menjadi fokus:

  • Kerja sama pertahanan: termasuk potensi alih teknologi dan pengembangan alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri

  • Investasi di sektor strategis: terutama energi, infrastruktur, dan pertambangan kritis seperti nikel dan rare earth

  • Pertukaran pendidikan dan teknologi: membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia dan kerja sama riset di bidang AI dan siber

Diplomasi Prabowo dipandang sebagai pendekatan pragmatis: mencari mitra strategis yang bisa menopang ambisi pembangunan nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta geopolitik Asia Tenggara.


Situasi Dalam Negeri: Tenang atau Ditenangkan?

Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan Polri menyatakan bahwa kondisi keamanan nasional tetap kondusif selama kunjungan Presiden ke luar negeri.

Namun, sebagian pengamat menilai bahwa ketenangan ini lebih mirip penekanan situasi, ketimbang hasil dari dialog yang sehat antara negara dan rakyat. Penangkapan lebih dari 3.000 demonstran, investigasi yang masih tertutup, dan pengawasan ketat terhadap media alternatif menimbulkan kekhawatiran tentang arah demokrasi ke depan.


Politik Simbolik: Menjawab Isu Dalam Negeri dari Luar Negeri

Dalam pidatonya sebelum keberangkatan, Prabowo menyatakan bahwa “hubungan luar negeri yang kuat adalah fondasi bagi stabilitas dalam negeri.” Ia menekankan pentingnya diplomasi ekonomi dan militer untuk membawa Indonesia ke posisi strategis yang lebih kuat di kancah internasional.

Namun, sejumlah kritikus justru menyebut langkah ini sebagai “pengalihan narasi”, mengingat situasi domestik yang masih belum tuntas, terutama soal kebebasan sipil dan keterbukaan informasi.


China dan Indonesia: Hubungan yang Makin Dekat

Hubungan Jakarta–Beijing telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. China kini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, khususnya dalam proyek-proyek besar seperti:

  • Kereta Cepat Jakarta-Bandung

  • Smelter nikel dan baterai EV di Sulawesi dan Kalimantan

  • Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan energi

Meski demikian, sebagian pihak mengingatkan soal jebakan utang dan dominasi pasar oleh produk-produk China, yang bisa melemahkan industri lokal.


Tanggapan Masyarakat: Apatis, Waspada, atau Optimis?

Reaksi publik atas kunjungan ini beragam:

  • Sebagian kalangan elite bisnis menyambut baik sebagai peluang memperkuat hubungan ekonomi.

  • Kalangan akademisi dan LSM menyoroti absennya transparansi dalam perjanjian bilateral.

  • Aktivis HAM dan mahasiswa mengkritik waktu kunjungan, mengingat masih hangatnya isu penangkapan massa dan pelanggaran HAM oleh aparat dalam negeri.

Namun, banyak masyarakat umum yang memilih diam. Situasi sosial yang cenderung represif membuat sebagian warga lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat secara terbuka—baik di dunia nyata maupun di media sosial.


Apa Selanjutnya?

Sepulang dari China, publik menantikan apakah Prabowo akan membawa oleh-oleh diplomatik yang konkret:

  • Investasi riil?

  • Transfer teknologi militer?

  • Atau sekadar nota kesepahaman?

Lebih penting lagi: akankah pemerintah menggunakan hasil kunjungan ini untuk memperkuat ketahanan nasional dalam arti luas—bukan hanya ekonomi dan militer, tetapi juga demokrasi, transparansi, dan kepercayaan publik?

Kunjungan ke luar negeri di masa transisi kekuasaan bisa menjadi langkah penting dalam diplomasi.

Stabilitas yang sehat tidak lahir dari pembungkaman, melainkan dari dialog terbuka dan pemulihan kepercayaan.

Skintific