Saat Ekonomi China Tumbuh Pesat Angka Kelahiran Anjlok Drastis
Koran Tasikmalaya – Saat Ekonomi China Tumbuh Meskipun ekonomi China terus menunjukkan pertumbuhan pesat di tengah dinamika perang dagang dan ketegangan geopolitik global, ada satu masalah besar yang kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah negara tersebut: turunnya angka kelahiran yang semakin drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelahiran di China mengalami penurunan tajam, yang menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan demografi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini.
Menurut data terbaru dari Badan Statistik China, angka kelahiran pada tahun 2025 tercatat hanya sekitar 7,5 kelahiran per seribu orang—merupakan angka terendah yang tercatat dalam sejarah negara tersebut. Penurunan ini semakin mencolok jika dibandingkan dengan puncaknya pada dekade 1980-an, ketika angka kelahiran China berada pada level yang jauh lebih tinggi.
Ekonomi Tumbuh, Namun Populasi Menurun
China, yang sejak beberapa dekade terakhir berhasil menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, saat ini sedang menghadapi dilema yang cukup pelik: meski PDB negara ini tumbuh secara signifikan, terutama berkat sektor teknologi, manufaktur, dan ekspor, namun pertumbuhan populasi justru mengalami penurunan yang signifikan.
Pada 2025, meskipun China mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2%, angka kelahiran yang semakin rendah mengancam keberlanjutan potensi ekonomi jangka panjang negara ini. Sementara itu, China juga tengah berjuang untuk menghadapi dampak perang dagang dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang mempengaruhi sektor-sektor tertentu, namun tidak cukup untuk mengatasi penurunan jumlah penduduk muda.
“Pertumbuhan ekonomi yang pesat di satu sisi memberikan keuntungan besar dalam hal investasi dan pengembangan infrastruktur, tetapi di sisi lain, penurunan angka kelahiran yang sangat tajam berpotensi menciptakan kekurangan tenaga kerja muda dalam beberapa dekade ke depan,” kata Li Wei, ekonom senior di Institut Riset Ekonomi China.
Baca Juga: Saddil Ramdani Optimistis Ada Perubahan Positif di Timnas Indonesia
Faktor Penyebab: Biaya Hidup Tinggi dan Perubahan Sosial
Penurunan angka kelahiran di China bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Berbagai faktor, baik sosial, ekonomi, dan budaya, turut berperan dalam hal ini. Salah satu faktor utama yang diidentifikasi oleh para ahli adalah biaya hidup yang semakin tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen.
Kehidupan urban yang semakin mahal membuat banyak pasangan muda di China ragu untuk memiliki lebih dari satu anak, bahkan terkadang memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Biaya untuk pendidikan anak, perawatan kesehatan, dan tempat tinggal yang semakin tinggi semakin membebani keluarga muda, yang akhirnya memilih untuk menunda atau menghindari pernikahan dan memiliki anak.
“Di kota-kota besar, biaya hidup sangat tinggi, terutama untuk pasangan muda yang baru memulai karir mereka. Menikah dan memiliki anak bukan hanya keputusan emosional, tetapi juga keputusan finansial yang sangat besar,” ujar Wang Lei, seorang pekerja muda di Shanghai. “Saya dan pasangan saya sudah berencana memiliki anak, tetapi situasi ekonomi membuat kami harus menunda keputusan itu.”
Selain itu, perubahan sosial dan budaya juga berperan dalam penurunan angka kelahiran. Semakin banyak pasangan muda di China yang lebih memilih untuk fokus pada karir dan pengembangan pribadi mereka daripada membangun keluarga. Pengaruh budaya global, yang menghargai kebebasan individu dan kemajuan karir, telah membuat banyak orang muda lebih memilih untuk menunda pernikahan atau bahkan memilih untuk tidak menikah sama sekali.
Kebijakan Pemerintah yang Tidak Cukup Mampu Mendorong Kelahiran
Pemerintah China, yang selama ini menerapkan kebijakan satu anak, akhirnya mencabut kebijakan tersebut pada tahun 2016, menggantinya dengan kebijakan dua anak. Pada 2021, Namun, meskipun kebijakan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi keluarga untuk memiliki lebih banyak anak, hasilnya masih belum sesuai harapan. Angka kelahiran tetap menunjukkan penurunan yang tajam.
Selain itu, pemerintah China juga telah memperkenalkan berbagai insentif, seperti subsidi untuk perawatan anak, cuti melahirkan yang lebih panjang, dan penurunan pajak bagi keluarga dengan anak, namun langkah-langkah tersebut tampaknya belum cukup untuk mendorong angka kelahiran yang signifikan.
“Meski ada kebijakan yang mendukung keluarga muda, faktor-faktor ekonomi yang lebih besar, seperti biaya pendidikan, perumahan, dan pengasuhan anak, membuat banyak pasangan memilih untuk tidak melahirkan lebih banyak anak,” kata Zhao Hui, ahli demografi di Universitas Beijing.
Dampak Jangka Panjang: Potensi Krisis Tenaga Kerja dan Penuaan Populasi
Penurunan angka kelahiran ini diperkirakan akan memicu krisis demografi dalam beberapa dekade mendatang. Dalam jangka panjang, China akan menghadapi masalah penurunan tenaga kerja yang semakin parah, mengingat semakin sedikitnya jumlah generasi muda yang memasuki dunia kerja.
Pada tahun 2025, sekitar 18% populasi China berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke Kondisi ini bisa menyebabkan penuaan populasi yang berpotensi membebani sistem jaminan sosial dan kesehatan, serta memengaruhi daya saing ekonomi negara.
Dalam menghadapi masalah ini, China mungkin harus mempertimbangkan untuk mengubah kebijakan terkait tenaga kerja dan pensiun, serta memperkenalkan solusi kreatif lainnya untuk mengatasi kekurangan populasi muda. Automatisasi dan kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi salah satu jawaban untuk menggantikan tenaga kerja manusia dalam sektor-sektor tertentu.
Saat Ekonomi China Tumbuh Kebijakan Masa Depan dan Harapan Pemerintah
Pemerintah China tengah mempertimbangkan serangkaian kebijakan baru untuk mendorong angka kelahiran, termasuk memperkenalkan lebih banyak insentif untuk keluarga yang memiliki lebih dari satu anak, seperti subsidi perumahan dan dukungan lebih besar dalam pendidikan. Selain itu, mereka juga berharap dapat mendorong lebih banyak pasangan untuk memiliki anak dengan memberikan kebijakan keseimbangan antara karir dan keluarga yang lebih baik.
Kesimpulan: Tantangan Besar di Tengah Kemajuan Ekonomi
Meskipun China berhasil mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa, penurunan tajam angka kelahiran menjadi tantangan besar yang dapat mengancam keberlanjutan ekonomi negara ini dalam beberapa dekade mendatang. Dalam menghadapi situasi ini, China harus menghadapi dilema antara pertumbuhan ekonomi dan masalah demografi yang semakin kompleks. Pemerintah China perlu merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kebutuhan untuk memperbaiki struktur demografis negara.












